Alfatihah Surat yang Sangat Mulia

Alfatihah Surat yang Sangat Mulia

foto: https://www.mustafalan.com

Apa surat yang paling mulia di dalam Al Quran? Jawabannya, surat Al Fatihah. Keampuhan dan kemuliaan surat setelah itu dapat ditunjukkan di dalam artikel setelah itu ini.
Al Fatihah, Surat Paling Mulia
Abu Sa’id Rafi’ bin Al Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara padaku,
أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِى الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ » . فَأَخَذَ بِيَدِى فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ . قَالَ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) هِىَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِى أُوتِيتُهُ »
“Maukah aku ajarkan engkau surat yang paling mulia di dalam Al Qur’an sebelum bakal engkau nampak masjid?”
Lalu beliau memegang tanganku, maka saat kami hendak keluar, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya engkau mengatakan, “Aku dapat mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al Qur’an?”
Beliau menjawab, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam) dan Al Qur’an Al ‘Azhim (Al Qur’an yang mulia) yang sudah diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari no. 5006)
Alasan Surat Al Fatihah Paling Mulia
1- Surat Al Fatihah disebut dengan dengan Ummul Quran
Yang namanya ummu berarti induk (ibu). Induk berarti daerah rujuknya segala sesuatu. Karena seorang anak jika merengek atau menangis, tentu yang dicari adalah ibunya atau induknya.
Kaitannya dengan dengan Al Fatihah, makna Al Qur’an seutuhnya kembali terhadap surat Al Fatihah. Oleh karenanya, itu alasan surat Al Fatihah wajib dibaca terhadap tiap-tiap raka’at di dalam shalat.
Dalil bahwa Al Fatihah disebut Ummul Quran,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ – ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ ». فَقِيلَ لأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ».
Dari Abu Hurairah, berasal berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat setelah itu tidak membaca Ummul Qur’an (yaitu Al Fatihah), maka shalatnya tidak memadai (tidak sah) beliau mengulanginya tiga kali, maksudnya tidak sempurna.”
Maka dikatakan terhadap Abu Hurairah bahwa kami shalat di belakang imam.
Abu Hurairah berkata, “Bacalah Al Fatihah untuk diri kalian sendiri gara-gara aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yakni terhadap diri-Ku dan hamba-Ku dua anggota dan bagi hamba-Ku apa doa berada di tempat angker yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi robbil ‘alamin (segala puji cuma membawa Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku sudah memuji-Ku. Ketika hamba setelah itu mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih kembali Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku sudah menyanjung-Ku. Ketika hamba setelah itu mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku sudah mengagungkan-Ku. Beliau berbicara s